mudik

IMG-20160703-WA0011

Menjelang Idul Fitri, hidup menemani orangtua selalu ada cerita tersendiri yang mungkin tak pernah diketahui apalagi dimiliki oleh saudara atau kawan yang merantau …

Para orang tua seperti memiliki beribu cerita baru yang perlu segera disampaikan tentang anak-anaknya yang pergi merantau. Bercerita tentang anaknya adalah sebuah energi tersendiri. Badan dan jiwanya seperti teraliri kekuatan baru. Mata mereka yang berbinar adalah refleksi dari dunia yang selalu dirindukan. Dan dunia itu adalah anak-anaknya.

Dering panggilan dari anaknya yang berada di perantauan adalah sebuah lonceng merdu yang menggugah jiwanya. Mereka menunggu janji kepulangan anak-anaknya. Mereka membiarkan dirinya menanti dan menyemai harapan bahwa lusa akan didengarkan suara  merdu anaknya yang sangat dirindukan. Mereka menunggu karena tidak ingin mengganggu anak-anaknya. Mereka menanti dalam diam. Mereka menanti bersama sepi dinding-dinding kamar tidurnya. Mereka menanti rumahnya kembali pecah oleh teriakan dan riuh tawa. Mereka menanti dengan hening, supaya kepulangan anaknya terdengar oleh telinganya yang menua pada kesempatan pertama.

Kalaupun sudah mendapat kabar akan kepulangan buah-hatinya, ia akan bercerita kepada setiap orang yang disuanya. Ia ingin bercerita kepada setiap kerabatnya bahwa buah hatinya akan kembali dipeluknya dalam kerinduan yang tidak pernah mampu terceritakan dalam jumlah kata mereka yang selalu terbatas.

Kalaupun belum ada kabar, ia selalu mengatakan kepada dirinya betapa buah hatinya sedang sibuk. Betapa buah hatinya sedang repot. Betapa buah hatinya sedang memiliki banyak hal untuk diselesaikan. Dan ia meletakkan asa pada lusa. Bahwa lusa ia akan menatap bangga buah hatinya yang tidak saja sudah mengisi hatinya, tetapi juga memenuh-sesaki jiwanya.

Kawan, jika memang saat ini kau sedang memiliki sangat banyak dalih untuk tidak mudik hari ini, mudiklah besok. Atau lusa. Karena mereka sedang menunggumu dalam diam. Pulanglah sebentar, peluklah pundaknya yang sudah tidak seperkasa dulu ketika kamu berteriak riang memanjatnya. Pulanglah sebentar untuk menatap matanya yang dulu selalu bangga menatapmu. Pulanglah sebentar untuk menatap matanya yang dulu selalu khawatir ketika kau nakal. Pulanglah sebentar untuk memeluk tubuhnya yang selalu bereaksi panik ketika kau sedang tidak sehat. Mungkin ia tidak pandai bercerita tentang hatinya: betapa ia sangat bangga kepadamu!

Ia tidak membutuhkan makanan-makanan pabrikan tanpa tanggal kadaluwarsa yang berkardus-kardus kamu bawa. Ia tidak peduli kendaraan yang kamu naiki. Bahkan ia pasti juga tidak peduli warna pakaian apa yang kamu pakai. Karena baginya kamu bukan hanya manusia fisik, kamu adalah manusia rohaninya! Ia hanya membutuhkan hadirmu. Ia hanya membutuhkan pelukanmu. Ia hanya ingin kembali menatapmu. Ia hanya ingin kembali mendengar ceritamu yang bahkan tidak dipahaminya.

Pada akhirnya, mudik bukanlah ritual tahunan semata. Mudik itu pulang. Pulang menemui keluarga tercinta, pulang merawat cinta yang tak terkata.

pagi di bulan Juni

130727-Rain-Drizzling-Down-A-Window

Subuh terasa basah pagi ini, mungkin karena gerimis yang turun semalam. Atau karena tangis yang sengaja kugigit diam-diam menjelang sahur. Mungkin pula begitu. Yang pasti, pagi ini embun masih terlihat bergelayut di ujung daun-daun jambu dan bunga-bunga kenanga yang tumbuh di pekarangan. Juga pada jendela-jendela kaca yang terlihat buram.

Kabut tipis menelingkup tanah dan langit, turun sejak ramadhan datang bertandang. Menggigilkan hati. Aku menghela nafas panjang, lalu berat kuhembuskan ke udara bersama beban yang menggumpal-gumpal di dada. Namun, tetap saja rasa lega tak kunjung tiba.

sketsa april

large3

april sudah separuh jalan. dan hujan masih sesekali bertandang. tanpa permisi, tanpa berjanji. seperti sore ini, hujan tiba-tiba mengguyur begitu saja. mengusir debu-debu, membasuh jalanan. segumpal awan mengkristalkan doa-doamu, harapan-harapanmu, yang tak surut kau sematkan di gigir waktu.

pertengahan april yang basah. menuntun hati yang lelah. duduk dan pasrah, pada detak jam dan lembar-lembar catatan usia yang jatuh ke tanah. tentang harapan dan kecemasan, kebahagiaan atau duka berkepanjangan, ketidaksempurnaan, ketidaklengkapan, atau bahkan ketidakmungkinan yang meminta disemogakan.

biarkan yang terjadi tetap terjadi. setiap peristiwa hadir dengan caranya sendiri. seperti yang telah digariskan, seperti yang telah dituliskan. kita hanya bisa menjalani, atau cukup menjadi saksi. dan, sesekali kita boleh kalah, namun tak boleh menyerah …