kesemestian

Mampukah kita berdamai dengan kesemestian? Menerima yang datang dan pergi, yang ada dan kemudian memudar? Seperti matahari yang terbit setiap pagi untuk kemudian tenggelam di senja hari? Juga kemarau dan hujan yang datang silih berganti? Atau dedaun pepohonan di halaman rumah yang perlahan kian memucat warnanya sebelum akhirnya gugur mencium bumi?

Kehidupan terkadang memberikan berbagai kejutan. Seperti kelokan yang tajam, turunan curam, atau sedikit tanjakan terjal yang mau tidak mau harus dilewati dengan sabar dan jantung berdebar. Tanpa kesempatan tawar-menawar. Kita mesti ikuti permainannya. Menerima tanpa perlu banyak bertanya. Menjalani, tanpa perlu banyak kata ‘tapi‘.

Mungkin kita masih saja berupaya mengekalkan kisah-kisah yang kita anggap istimewa. Sesuatu yang kita duga lebih baik dari kisah-kisah lainnya. Bahkan terperangkap pada kehendak untuk menjadikannya abadi. Lalu merenung, dan mencoba memahami serta memaknainya. Bertahun-tahun, hingga pada akhirnya merasa percuma untuk tertawa atau menangis.

Iklan