sketsa lara

waiting1

aku selalu memilih waktu yang sama
menunggumu di sudut senja
memandang matahari di bawah langit tembaga
yang perlahan karam ke dasar cakrawala

ah, barangkali tak perlu kuceritakan kepadamu
tentang kerinduan yang kian ringkih
terkubur bersama mimpi-mimpi usang
dalam pahatan waktu yang berjelaga
menyisakan selaksa lara
yang tak kunjung purna
demikian pedih
demikian perih

doa rindu

rindu yang tak pernah kusengaja ini
sepertinya tak juga jemu memburuku
terus saja ia berdetak tanpa ragu
menembus jarak dan waktu
sunyi dan hening kian menuntunnya bergelut dengan kelu
mengingatkanku untuk tak melupakan sesuatu :
mendoakanmu

ah, apa guna memaki jarak
bila doa dan rindu kita tak pernah tersesat