menghitung senja

angin musim telah beranjak
tergesa mengemasi pecahan hujan
yang jatuh berserak

sementara di sini,
aku masih setia menghitung senja
memecah kisah dalam jejak tarian waktu
seraya mengumpulkan serpih-serpih usiaku
melipat rapi setiap debar yang memburu
menyimpan letup-letup api cemburu
mengemas seluruh gemuruh rindu
melebur ke dalam sunyi
sendiri

juni 2011

episode hujan

hujan

hujan mengukir kisah pada sepotong senja
tentang kerinduan yang terpaksa usai
sebelum semuanya sempurna terurai

lantas menjebak kita
ke dalam resah yang menggigil
seraya tergesa membungkus kembali
remah-remah pertemuan yang tercecer
lantaran ada banyak kata yang tak sempat terucap
juga ribuan rasa yang tak sempat tercecap

dan,
hujan yang turun senja itu
tak sanggup menghapus jejak rindumu
yang tertinggal di pelataran waktu

jangan lagi kau kirim luka

senja masih selalu saja menawarkan jingga
melipat matahari dalam lengkung cakrawala
menyisakan keheningan
yang perlahan menyusup dalam celah malam

ah, kegetiran ini terasa sangat melelahkan
menuang resah pada setiap langkah
sementara kata-kata telah patah
memainkan bait-bait kesunyian
memintal kecemasan

pada putaran musim yang tersisa
jangan lagi kau kirim luka
karena setiap hurufnya
terlalu sulit untuk ku eja

[29-09-2010]

biar kupahatkan rinduku

deni-triwardana-hati

BIAR KUPAHATKAN RINDUKU

Haruskah kubunuh rindu
yang mengangkara di relung kalbu
saat senja mengurai warna
membiaskan baris-baris rasa
mendesirkan gelisah hidupku

sementara batas cakrawala telah jelas terbaca
dan waktu pun tak pernah surut ke belakang
hingga jarak masih akan terus terbentang

ah, berapa panjang sepi akan menggayut hari
sedang mimpi dan harapan tak jua menepi
biarlah kupahatkan rinduku pada angin lalu
karena rasaku tak menuntut yang bukan hakku

maafkan aku,
yang tanpa izin
telah diam-diam mencintaimu

(okt 2009)