sketsa masa (2)

Berdamai, bukan melupakan. Dan lagi semuanya sudah lewat. Sudah menjadi masa lalu. Tapi, benarkah semua tinggal menjadi masa lalu?

Sayangnya, dua tahun terakhir, masa lalu itu dengan deras kembali menghampiriku. Puing-puingnya kembali terangkat ke permukaan. Dan aku benar-benar tak kuasa menghentikannya. Terlebih setelah waktu memberi kesempatan membongkar semuanya. Membongkar perasaan yang sama. Perasaan yang tumbuh begitu saja. Seperti pohon-pohon di hutan belantara yang tak pernah minta disirami, namun tumbuh dengan lebat secara alami. Meski musim selalu berganti dan waktu terus saja berlari.

Ya, Tuhan. Apa arti semua ini …

Bukankah semuanya sudah belasan tahun tertinggal jauh di belakang? Tidak ada lagi. Seharusnya tidak ada lagi perasaan itu. Tapi sungguh. Aku tak bisa sembunyi dari pikiranku, dari perasaanku. Aku sungguh masih menyayanginya. Tetapi, itu dalam bentuk dan pengertian yang berbeda. Berbeda? Entahlah, aku tidak tahu. Semua ini membuatku kembali menapaktilasi masa lalu.

Dan semua ini begitu menyesakkan. Lebih tepatnya memunculkan kekhawatiran. Jangan-jangan aku berharap memiliki lagi kesempatan. Jangan-jangan perasaan itu kembali mekar. Tidak. Semua itu tidak mungkin terjadi. Bertahun-tahun aku sudah belajar berdamai. Berdamai dengan kenyataan.

”Terima kasih. Kau telah mencintaiku begitu besar, mencintaiku begitu indah.”

Iklan

sketsa masa

Kutuliskan ini lantaran sebenar-benarnya aku memang tak pernah bisa melupakannya. Meski sesungguhnya semua itu sudah jauh tertinggal di belakang. Ya, tentang tahun-tahun yang getir. Di saat hatiku hancur berkeping. Di saat aku sendirian menangis tanpa air mata. Di saat aku tahu bahwa tak akan pernah ada kesempatan itu. Tidak akan pernah.

Hari-hari terasa sangat menyesakkan. Hari-hari terasa lebih panjang karena helaan napas tertahan. Setiap jengkal waktu harus berusaha melupakannya. Setiap jengkal waktu harus berusaha mengusir bayangannya. Sia-sia. Ingatan itu justru mencengkeram dua kali lipatnya.

Aku berusaha lari dengan menyibukkan diri sepanjang hari. Membunuh dengan tega setiap kali kerinduan itu muncul. Berat sekali melakukannya. Karena itu setiap kali aku harus menikam hatiku setiap detik. Hanya ketika pagi datang, sedikit perasaan lega mengisi sepotong hatiku. Sebab, pagi selalu menghadirkan janji-janji baru seiring rekahnya matahari. Ketika harapan-harapan baru hadir menyibak kabut yang menggelayut. Dan yang pasti, pagi berarti satu hari yang menyesakkan telah terlewati.

Namun, hingga kapan semua ini akan berakhir? Hingga kapan aku bisa melupakannya? Tidak. Aku tidak akan pernah bisa melupakannya. Aku harus berdamai dengan keadaan. Meski kenyataannya, itu mudah dikatakan tetapi menyakitkan untuk dilakukan. Berdamai dengan masa lalu yang menyesakkan. Ya, berdamai, bukan melupakan.