adakah yang kita tunggu

menunggu-sketsadalamsunyi

adakah yang kita tunggu
bila hanya keheningan dan kekosongan
yang selalu hadir menjamu

sementara waktu yang mendampingi kita
kian gusar dan tak sabar
menggulung hari-hari baru

akankah kita biarkan
kerentaan merambati usia
di dalam kegelisahan
yang sia-sia

 
Iklan

menghitung senja

angin musim telah beranjak
tergesa mengemasi pecahan hujan
yang jatuh berserak

sementara di sini,
aku masih setia menghitung senja
memecah kisah dalam jejak tarian waktu
seraya mengumpulkan serpih-serpih usiaku
melipat rapi setiap debar yang memburu
menyimpan letup-letup api cemburu
mengemas seluruh gemuruh rindu
melebur ke dalam sunyi
sendiri

juni 2011

kepada anakku

kasih_sayang_ilustrasia

KEPADA ANAKKU

:laras kinasih

Kutulis puisi ini anakku
pada malam senyap
saat kau tertidur lelap
berselimut doa yang berkejaran
dengan guguran air mata

Bermimpilah sesukamu, anakku
raihlah bintang gemintang di langit biru
tinggalkan derita yang membelenggu hidupmu
dan memasung keceriaan masa kecilmu

Anakku,
Senyum kecil dan mata beningmu
memang selalu hadirkan rindu
namun tak pernah bisa tuntas
menghapus air mata ibu
sebab menatap paras kanakmu
serasa ada yang mengiris kalbu
karna derita yang mendera ringkih tubuhmu
tak jua beranjak meninggalkanmu

Anakku,
Ibu pun tak pernah tahu
mengapa Tuhan memilihmu
untuk menanggung derita tak bertepi
di usiamu yang masih terlalu pagi
namun, percayalah anakku
ada rahasia yang disimpan Tuhan untukmu
dan aku, ibumu

Anakku, maafkan ibu
yang tak bisa gantikan deritamu

(2009)

setangkup doa

malam kian larut
mencengkeram jiwa yang kalut
terkurung dalam dingin ruang
yang menebarkan aroma maut

sementara,
detak waktu merangkak demikian lamban
merajut kesunyian
mengekalkan muram

tak ada suara
hanya gumam lirih setangkup doa
mencoba bertarung melawan kecemasan
yang terburu menyerbu
menyesaki lorong kalbu

[ruang ICU, RS Santa Clara, awal maret 2011]